Tuesday, June 28, 2011

Adam Wheeler: Masuk Harvard Dengan Modal Mencuri

Jika ingin hidup Anda aman dan tenteram, lebih baik jangan meniru pria ini. Adam Wheeler, pemuda (24) ini tak pernah bisa mengendalikan hasrat untuk menipu, di mana pun dan kapan pun. Termasuk ketika ia masuk ke universitas ngetop di Amerika Serikat, Harvard. Dengan kehebatannya, ia bisa diterima di Harvard dan bahkan dapat meraih beasiswa dan penghargaan. Semua aksinya berjalan mulus, sampai akhirnya dia mengirimkan lagi aplikasi untuk meraup dana beasiswa dan penelitian.

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sehebat-hebatnya Wheeler berbohong, akhirnya tergelincir juga. Kebohongan Wheeler terungkap gara-gara ia menulis portfolio yang terlalu hebat yang justru mengundang kecurigaan pihak penyeleksi beasiswa bergengsi Rhodes dan Fullbright.
Ketika kebohongan itu terkuak, Wheeler telah berhasil meraup dana senilai 40 ribu dolar AS (sekitar Rp 452 juta). Wujudnya berupa hibah dan berbagai macam penghargaan. Setelah kasusnya terbongkar, Wheeler diadili dan dihukum 10 tahun serta harus membayar 45.806 dolar AS ke Universitas Harvard.

Pria 'cerdas' ini mengaku bersalah atas 20 dakwaan, antara lain penipuan dan pencurian, identitas palsu, dan gelar akademik yang juga palsu.
"Aku malu dan menanggung aib dari kelakuanku. Sebisa mungkin, saya ingin menjadikan ini masa lalu dan saya melangkah maju." katanya di pengadilan Massachusetts, dengan suara yang begitu tenang, nyaris menyerupai bisikan.

Belang Wheeler sendiri diawali 2007 lalu, ketika ia dikeluarkan dari Bowdoin College di Maine karena plagiarisme. Alih-alih insaf, dia membangun satu persona baru yang penuh kepalsuan. Aplikasinya ke Harvard berhasil karena dalam lamarannya dia menulis telah lulus dari Akademi Phillips yang elite di Andover, Massachusetts - padahal SMA-nya sekolah negeri di Delaware. Dia juga mengaku punya rekor sempurna pada kemampuan akademik di MIT.
Setelah diterima di Harvard, dia makin tergila-gila dengan bualannya. Wheeler membuat resume yang membanggakan yaitu menulis dua buku dan menjadi anggota penulis di empat buku lainnya termasuk memberi ceramah dalam studi tentang Armenia, padahal semua itu omong kosong. Ia memenangi penghargaan Hoopes sebesar 4 ribu dolar, penghargaan Sargent 2 ribu dolar dan hibah penelitian Rockefeller 8 ribu dolar, cukup dengan modal plagiarisme.

Aplikasi yang dia kirim untuk beasiswa Rhodes dan Fulbright diperiksa oleh seorang profesor bahasa Inggris Harvard yang melihat ada tumpang tindih antara aplikasi Wheeler dengan karya seorang rekan profesor itu. Maka tak ayal lagi, Wheeler lalu diselidiki dan sebelum dikeluarkan dia lebih dulu mengundurkan diri dari Harvard.

Apakah pengalaman ini membuat Wheeler kapok? Ternyata tidak! Wheeler mengajukan transfer ke empat universitas lain dan sempat diterima oleh dua di antaranya hingga kasusnya tercium dan dia batal diterima.

Hukuman masa percobaan untuk Wheeler juga mencakup larangan dia masuk ke Harvard serta meraup keuntungan dari petualagannya yang penuh kebohongan. Dia juga wajib menjalani terapi. Pria itu kini kerja paruh waktu di bagian amal di Massachusetts dengan upah minimum.

Koran terbitan Inggris Guardian berandai-andai, jika saja Wheeler dapat mengekang nafsunya, dia sekarang telah lulus dari Harvard dan masa depannya cerah, seperti ditulis Antara.

Kesimpulannya, siapa sebenarnya yang pintar dan cerdas? Dan siapa pula yang bodoh sehingga mudah dibohongi?
sumber

No comments:

Post a Comment